Mengenai Saya

Foto saya
Kami lahir bukan gila predikat terbaik, tapi kami ingin membuang Rasis dan menyingkirkan dari bumi AREMA selamanya. Sayangi Team kamu dan singkirkan rasis. Sepakbola untuk Indonesia ! "salam satu jiwa"

Sabtu, 06 November 2010

Awas ! Arema di Kisruh


MALANG – MP Jumat, 05 November 2010 14:16
Yayasan Arema kembali menegaskan sikapnya yang menolak ikut bergabung di Liga Primer Indonesia. Bentuk penolakan itu dilakukan manajemen Arema dengan mengembalikan uang pinjaman sebesar Rp 1,5 miliar dari Bank Saudara (Medco Grup).
Pasalnya pinjaman tersebut disebut-sebut sebagai upaya LPI untuk menjerat Arema. Untuk itu, uang yang terlanjur diterima tersebut akhirnya dikembalikan, dan tim kebanggaan Aremania memutuskan tetap tampil di Indonesia Super League. Sementara menyikapi klaim dari pihak LPI bahwa Arema masih terdaftar ikut LPI, Yayasan Arema menegaskan bahwa Singo Edan tetap mengikuti kompetisi ISL. Itu berdasarkan hasil rapat Yayasan Arema yang direlease kemarin sore.
’’Menyikapi informasi di media terkait klaim keikutsertaan Arema Indonesia di LPI, hasil rapat Yayasan Arema memutuskan bahwa Arema Indonesia tetap mengikuti kompetisi ISL,’’ ungkap manajer media officer Arema, Sudarmaji.
’’Perlu dijelaskan ke Aremania sebagai suporter Arema Indonesia bahwa ada upaya pihak-pihak yang ingin memecah belah keutuhan Arema dan Aremania dengan berusaha mengklaim atas kepemilikan maupun keikutsertaan di kompetisi LPI,’’ sambungnya.
Manajemen Arema pun menghimbau agar Aremania bersatu padu melawan upaya pemecah belahan tersebut. Pasalnya, menurut Darmaji, Arema Indonesia ini adalah milik Aremania.
’’Jangan usik perjalanan Arema Indonesia yang mulai mengukir prestasi baik di tingkat nasional dan Asia. Untuk itu, keputusan tegas ini menjadi bagian penting dari keseriusan dan komitmen Arema Indonesia untuk fokus menjalani kompetisi resmi yang dikelola PT Liga Indonesia yang disetujui PSSI dan AFC,’’ jelas Darmaji.
Lebih lanjut, mantan wartawan ini menegaskan, selama ini tidak ada komitmen dengan konsorsium LPI. Meski juga tidak dibantahnya, komitmen manajemen Arema justru dengan pihak Bank Saudara, sebatas komitmen sponsorship.
’’Dan tidak pernah ada presentasi soal LPI. Karena itu, bila ada klaim kepemilikan Arema berpindah dan otomatis ikut LPI, itu sungguh diluar komitmen dan ada indikasi memecah Arema dan Aremania, sebab sampai saat ini, Arema Indonesia putuskan tetap eksis di ISL,’’ yakin Darmaji.
Pria asal Banyuwangi ini tak merinci pihak-pihak yang dianggap memecah belah keutuhan Arema, namun dinilainya ada indikasi kearah tersebut. Boleh jadi, itu dilakukan piha-pihak yang selama ini tidak terakomodir di Arema, atau pihak yang pernah dikecewakan Arema.
Tarik ulur kompetisi ISL dan LPI pun menjadi bahan untuk memperkeruh suasana, atau menurut Darmaji sebagai upaya untuk memecah belah Arema Indonesia. Upaya tersebut, tampaknya juga dilakukan secara sitematis, dengan tujuan menyeret tim Arema gabung LPI.
Terpisah, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid secara resmi mengeluarkan surat ancaman terhadap siapa saja, yang terlibat dalam urusan LPI.
‘’Kami (PSSI) harus tegas. Kami tidak mau diombang-ambingkan klub-klub sepakbola. Organisasi sepakbola resmi di Indonesia adalah PSSI. Karena itu, semua harus tunduk ke PSSI,’’ tandas Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI kepada Malang Post melalui saluran ponselnya, Jumat siang.
Nurdin, lelaki kelahiran Watanpone 17 Nopember 1958 ini, kemudian berusaha merinci materi surat ancaman yang akan dibagikan ke seluruh insan sepakbola di Indonesia.
Tetapi, karena kondisinya tidak memungkinkan, Nurdin hanya minta agar beberapa sanksi yang akan dikeluarkan dijadikan informasi utama bagi klub-klub sepakbola.
Menurut dia, jika klub sepakbola yang berdiri di bawah naungan PSSI kemudian menyeberang ke LPI maka seluruh kehidupan klub tersebut akan dengan sendirinya dianggap tidak ada. Dengan kata lain, klub itu tidak lagi memiliki kekuatan apapun di industri sepakbola di Indonesia.
Diantaranya, lanjut dia, pelatih klub yang menyeberang ke LPI maka linsensi kepelatihannya akan dicabut. Otomatis, pencabutan lisensi itu akan berpengaruh terhadap linsensi lainnya, yang dihasilkan dengan rekomendasi dari PSSI. ‘’Dia bisa mendapat linsensi sebagai pelatih dari luar negeri, pasti karena rekomendasi PSSI,’’ tuturnya.
Tidak itu saja, pemain asing yang sekarang ini merumput di Indonesia kemudian diketahui membela klub sepakbola yang masuk LPI, maka pemain bersangkutan akan langsung dikeluarkan dari Indonesia atau dikembalikan ke negaranya. Sebab, mereka bisa main di Indonesia karena rekomendasi PSSI.
‘’Pokoknya, klub sepakbola yang ikut LPI, maka klub itu dengan sendirinya akan berhadapan dengan PSSI. Kami ingin anggota berjalan sesuai aturan yang ada. Aturan diluar PSSI berarti liar. Makanya, perlu kami tertibkan. Sanksi berat pun sudah kita keluarkan hari ini (kemarin, Rd.),’’ paparnya dengan tidak menyebutkan nomor surat dimaksudkan.
Sementara itu dihubungi secara terpisah Haruna Sumitro, Ketua Pengprov PSSI Jatim menyebutkan, langkah PSSI menertibkan anggotanya dinilai sangat tepat. Tidak hanya klub, pelatih, pemain dan atau manajemen klub harus sepenuhnya tunduk terhadap peraturan PSSI.
‘’Coba Anda bayangkan, pelatih dapat linsensi kepelatihan dari PSSI. Kemudian dia menggunakan lisensi itu di tempat yang tidak benar (LPI), masa PSSI akan diam saja. Ibaratnya, kami berikan dia SIM untuk mobilnya PSSI, ehh ternyata dipakai nyopir mobil lainnya,’’ ujarnya berdalih.
Dikatakan Haruna, peringatan PSSI terkait munculnya persoalan LPI dinilai tindakan tepat. Karena itu, klub-klub sepakbola yang nekad hendak menyeberang ke LPI diminta berpikir ulang. ‘’Kalau PSSI dianggap kurang dalam pelayanan, mari sama-sama kita benahi. Wong kita juga terbuka untuk semua pihak kok,’’ tandasnya. (bua/has/avi)


Selasa, 14 September 2010

Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Mohon Maaf Lahir Batin?



Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari lebaran baik melalui lisan ataupun kartu ucapan idul fitri. Ada dua kalimat yang diambil dari bahasa arab di sana, yaitu kalimat ke dua dan tiga. Apakah arti kedua kalimat itu? Dari mana asal-usulnya? Sebagian orang kadang cukup mengucapkan minal ‘aidin wal faizin dengan bermaksud meminta maaf. Benarkah dua kalimat yang terakhir memiliki makna yang sama?

Para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqobalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka. Arti kalimat ini adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima.

Jadi kalimat yang ke dua dari ucapan selamat lebaran di atas memang biasa digunakan sejak jaman para Sahabat Nabi hingga sekarang.

Lalu bagaimana dengan kalimat: minal ‘aidin wal faizin? Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin (Ini penulisan yang benar menurut ejaan bahasa indonesia, bukan aidzin,aidhin atau faidzin,faidhin. Kalau dalam tulisan bahasa arab: من العاءدين و الفاءيزين )

Yang pertama sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Id pada Idul Fitri. ‘Id itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini perayaan yang datang setiap tahun. Sementara Al Fitr, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. (Ada juga yang menghubungkan al Fitr dengan Fitrah atau kesucian, asal kejadian)

Faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha, ampunan dan nikmat surga. Sementara kata min dalam minal menunjukkan bagian dari sesuatu.

Sebenarnya ada potongan kalimat yang semestinya ditambahkan di depan kalimat ini, yaitu ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). Jadi selengkapnya kalimat minal ‘aidin wal faizin bermakna (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah). Jelaslah, meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, ia tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.

Wallahu a’lam

Selasa, 31 Agustus 2010

Istana dan Dana Sepakbola Indonesia

JAKARTA-Staf Khusus Presiden bidang Pemerintahan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai mengundang tokoh-tokoh sepakbola nasional berkumpul di Istana, Kamis (26/8) siang. Mereka membahas fenomena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dipakai untuk membiayai klub sepakbola.

Itu diungkapkan Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam di akun Twitternya, Rabu (25/8) kemarin. ”Besok, Velix Wanggai mengundang pengurus PSSI, atlet, mantan atlet untuk berdiskusi sepakbola dan identitas lokal," katanya.

Dikatakan, tokoh-tokoh yang akan hadir adalah Nurdin Halid, Syaifullah Yusuf, Arifin Panigoro, Dede Yusuf, Kusnaeni, Ian Situmorang, beberapa atlet dan pengurus PSSI. Juga tokoh seperti Dede Yusuf dan Syaifullah Yusuf turut diundang, selaku pembina sepakbola daerah. Hadir pula sejumlah pembina klub daerah seperti Walikota Jayapura MR Kambu.
Dalam siaran persnya, Velix menyatakan pengelolaan klub-klub sepakbola di tanah air sebagian besar masih mengandalkan dana APBD. Hal ini mengundang keprihatinan karena pemerintah telah melarang pembiayaan klub dari APBD melalui Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
“Banyak kota atau kabupaten menggunakan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional sebagai dasar atas keputusan tersebut. Meskipun pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran keolahragaan melalui APBD, hendaknya prioritas dana APBD tetap diarahkan pada pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan,” kata Velix Wanggai.
Menurut Velix, pemberlakuan Otonomi Daerah yang diikuti dengan pemberlakuan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, telah memberikan kesempatan pada kabupaten dan kota untuk menjalankan pembangunan berdasarkan lokalitas masing-masing.

Namun, pembangunan olahraga lokal hendaknya tidak mengorbankan upaya-upaya yang terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat. “Karena itu, kami berinisiatif mengumpulkan para pembina klub sepakbola dari berbagai daerah di Indonesia, guna mendiskusikan kebijakan pemerintah terkait dengan penggunaan dana APBD, serta mencari solusi strategis untuk pembiayaan klub sepakbola secara professional dengan menggali potensi masing-masing daerah,” ujar Velix yang masih mempunyai hubungan kerabat dari keluarga Immanuel Wanggai, pemain sepakbola nasional asal klub Persipura, Jayapura.

“Sepakbola merupakan olahraga dengan segmen pasar terluas di Indonesia. Pengembangan klub sepakbola secara profesional sangat dimungkinkan. Warna kedaerahan atau identitas lokal dapat menjadi brand untuk meningkatkan dukungan bagi klub dari sumberdaya lokal sehingga dapat memperkuat pilar-pilar sepakbola nasional dalam jangka panjang,” kata Velix.

Dicontohkan keberhasilan klub sepakbola kecil bernama Schalke 04 di daerah Gelsenkirchen, Jerman. Meski hanya sebuah kota berpenduduk 269.000 orang dan luas wilayahnya hampir sama dengan Kota Bekasi, Schalke 04 mampu keluar dari segala keterbatasannya. Klub peserta Bundesliga itu menjadi mandiri, bahkan berprestasi, menjadi salah satu pesaing berat Bayern Munich di Liga Jerman tersebut.

Sementara itu, untuk klub ISL sebagian besar masih menggantungkan suntikan dana APBD. Seperti Persija Jakarta untuk mengarungi kompetisi musim 2010-2011, bakal disuntik dana APBD DKI sebesar Rp 15 miliar. Begitu pula Persitara disuntik dari APBD sama sebesar Rp 5 miliar.

Persebaya muapun Deltras, Persema, Persela dan klub lainnya Jatim maupun luar Jawa rata-rata disuntik dana APBD di atas Rp 10 miliar. Mungkin di antara klub yang menggantungkan dana APBD itu, hanya Arema, Pelita Jaya dan Semen Padang yang sejauh ini sudah profesional. Kata lain, tiga klub itu tidak pernah mendapatkan suntikan dana pemerintah.

**Raden**/kom*

Senin, 30 Agustus 2010

REKOR-REKOR AREMA 1987-2010



Kemenangan terbesar:
kandang: 6-1 atas Aceh Putra (3/3/1991) & Pelita Jaya (3/4/2010)
tandang: 5-1 atas Persija Jakarta (30/5/2010)

Kekalahan terbesar:
kandang: 5-0 atas Persipura (28/2/2009)
tandang: 6-0 atas Persipura (26/1/2008)

Musim Kemenangan terbanyak
ISL II 2009/10
(23 kemenangan) (18 tim)

Musim kekalahan tersedikit
Galatama XII 1992/93 (3 kekalahan) (16 tim)

Musim kemenangan tandang terbanyak
ISL I 2009/10 (9 kemenangan)

Musim Memasukan gol terbanyak
ISL II 2009/10 (57 gol)

Musim Memasukan gol tersedikit
Ligina II 1995/96 (19 gol) (16 tim)

Musim kemasukan gol terbanyak
Ligina IX 2003 (59 gol) (20 tim)

Musim kemasukan gol tersedikit
Liga Pertamina Divisi I 2004 [8 gol (penyisihan) + 1 gol (babak 6 besar)] [12 tim + 4 pertandingan di babak 6 besar, semifinal & final]

Musim terbanyak perekrutan pemain asing
Musim 2008/09 (11 pemain asing)

Gol pertama
Mecky Tata (vs Makassar Utama)

Terbanyak top skor
Singgih Pitono 2 kali (1991/92 & 1992/93)

Terbanyak dalam mencetak gol di satu pertandingan
Emile Mbamba (4 gol) (vs Persijap 18/10/2007)

Gol terbanyak
Singgih Pitono 21 gol (1991/92)

Gol tercepat
Singgih Pitono 1 menit (vs Semen Padang 16/2/1992)

Gol tercepat kemasukan
Musikan pada detik ke-42 (vs Persik 13/7/2003)

Gol terjauh
Piere Njanka kurang lebih 50 m (vs Persipura 24/4/2010)

Pemain terlama
Jonathan (12 tahun) (1987-96, 1998-99)

Pemain tercepat tercoret
Leontin Chitescu (1 bulan) (1 kali main)

Pemain termuda
Kuncoro, Miftachul Huda (17 tahun)

Pemain tertua
?

Pemain tertinggi
Junior Lima (188 cm)

Pemain terpendek
Yoseph Iyai (155 cm)

Pemain termahal
Emile Mbamba disebut-sebut mencapai 2,5 milyar

Pelatih terlama/tersering
Gusnul Yakin (5 kali= 9 Tahun)

Pergantian pelatih terbanyak musim
Ligina IX 2003 (3 kali)

Kandang terbanyak
kurang-lebih 60.000 (Stadion Kanjuruhan) (vs Persija 13/7/2005)

Tandang terbanyak
kurang-lebih 45.000 diantara kurang-lebih 85.000 penonton (Stadion Gelora Bung Karno) (vs Persija 30/5/2010)

==============================================

Statistik Arema di Strata I Liga Indonesia

(Divisi Utama 1994-2008 ditambah ISL 2008-2010)

Jumlah Pertandingan = 392
Jumlah Menang = 173
Jumlah Seri = 99
Jumlah Kalah = 120
Memasukkan Gol = 477
Kemasukan Gol = 387
Total Poin = 618
Persentase Kemenangan = 44.13%
Persentase Seri = 25.25%
Persentase Kalah = 30.61%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 1.21
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 0.98
Rata-rata poin tiap pertandingan = 1.58

==============================================

Klasemen Strata I Liga Indonesia

(Divisi Utama 1994-2008 ditambah ISL 2008-2010)

1. PSM Makassar 439 pertandingan 751 poin
2. Persipura Jayapura 426 pertandingan 689 poin
3. Persija Jakarta 431 pertandingan 670 poin
4. Persib Bandung 417 pertandingan 654 poin
5. Arema Malang 392 pertandingan 618 poin
6. Pupuk Kaltim 422 pertandingan 595 poin
7. Pelita Jaya 393 pertandingan 591 poin
8. Sriwijaya FC (d/h Persijatim) 387 pertandingan 505 poin
9. PSMS Medan 355 pertandingan 504 poin
10. Persebaya Surabaya 323 pertandingan 501 poin
11. Persita Tangerang 354 pertandingan 496 poin
12. Deltras Sidoarjo(d/h Gelora Dewata) 379 pertandingan 495 poin
13. Persema Malang 298 pertandingan 381 poin
14. Persik Kediri 237 pertandingan 373 poin
15. PSIS Semarang 361 pertandingan 470 poin
16. Semen Padang 345 pertandingan 468 poin
17. Persikota Tangerang 265 pertandingan 377 poin
18. PSDS Deli Serdang 303 pertandingan 361 poin
19. Gresik United(d/h Petrokimia Putra) 255 pertandingan 360 poin
20. Persiba Balikpapan 264 pertandingan 351 poin
21. Barito Putra 231 pertandingan 306 poin
22. PSPS Pekanbaru 206 pertandingan 287 poin
23. PSS Sleman 205 pertandingan 273 poin
24. Persiraja Banda Aceh 194 pertandingan 249 poin
25. Persisam putra (d/h Putra Samarinda) 183 pertandingan 242 poin
26. Persiwa 131 pertandingan 217 poin
27. Persma Manado 163 pertandingan 201 poin
28. Bandung Raya 93 pertandingan 192 poin
29. Mitra Kukar (d/h Mitra Surabaya) 105 pertandingan 168 poin
30. Persikab Bandung 150 pertandingan 163 poin
31. Medan Jaya 134 pertandingan 151 poin

**Raden dari berbagai sumber**


Sabtu, 28 Agustus 2010

Arema = St Pauli ( sebuah klab yang bermarkas di Hamburg - Jerman )

Jika Muangthong FC diidentikan dengan Manchester Unitednya Asia Tenggara. Maka Arema adalah St Paulinya Indonesia. St Pauli FC adalah sebuah klab yang bermarkas di Hamburg tepatnya di Saint Pauli. Meski Selama berkompetisi di liga sepak bola profesional Jerman, klub ini belum sekalipun meraih prestasi yang bergengsi. Namun klub ini punya atribut membanggakan yang tidak dipunyai suporter lain di seantero Eropa sana. Suporter disana terkenal sangat loyal, karena sepakbola sudah dianggap sebagai denyut nadi kehidupan. Ada rasa kebanggaan tersendiri dalam rangka membela Panji St Pauli.

Padanannya tentu saja adalah Arema, dalam blog Jakarta Casual, ada artikel yang menulis,

Arema are more than just a football club. They are a way of life. They are the St Pauli of Indonesia. A culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul. Arema is rough and ready. It's Satu Jiwa, one soul, it's Arema or nothing. It's a five hour walk home after a home game.It's football of the people, not the marketing men and it's real.

Karena, Arema sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola berikut komunitas suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu, adalah sebuah simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan terhadap identitas sebagai orang asal Malang, Salam satu jiwa adalah simbol kebanggaan untuk saling bersodara, rasa memiliki, dan tentu saja kebanggaan besar akan klab sepakbola. Oleh karena itu, sebutan Arema bukan sekedar melekat pada komunitas sepak bola, namun juga digunakan oleh komunitas sopir angkutan umum, tukang becak, komunitas tinju dan lain-lain. Sama halnya klab St Pauli di Jerman yang begitu dicintai.

Dalam perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat sebagai bentuk resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi jika anak-anak muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu bersaing dalam banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang paling superior di Jawa Timur. Dalam konteks itulah, kadar permusuhan Arek Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan dalam kasus-kasus tertentu melebihi permusuhan mereka dengan komunitas yang secara geografis lebih jauh.

Arema kemudian menjelma mejadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan Arek Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya melalui musik dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah gudangnya petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso Suseno, Polo Sugaray, Monodh, dan lain-lain. Malang juga melahirkan pesepak bola kenamaan : Bambang Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto, Agus Yuwono, Charis Yulianto dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan asli Malang, namun mereka besar di Malang dan bangga disebut Arek Malang.

Aremania Adalah Sponsor Arema

Bukan hal aneh jika selama ini dukungan Aremania kepada Arema terasa sangat besar, bahkan menyentuh segi ekonomi. Sejak dulu bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini hampir tidak bisa mengikuti kompetisi Liga karena tidak punya dana. Problem dana memang telah mendarah-daging dalam Arema. Uniknya, klub berlogo singo edan ini selalu dapat mengatasi problem itu, bahkan mempu berprestasi lumayan bagus.

Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, 2 kali Copa Indonesia, dan 1 kali ISL adalah buahnya. Catatan prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah satu tim yang disegani di kancah Pesepakbolaan Indonesia. Namun yang lebih sering menarik perhatian publik bola nasional dari Arema dalah polah-tingkah komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan Aremania. Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola yang ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas dalam menghidupkan atmosfer pertandingan. Hal inilah yang membuat Jakarta Casual tidak ragu untuk memberi padanan bahwa Arema adalah St Paulinya Indonesia.

http://wearemania.net/images/berita/2010_08/aremania130207.jpg



Militansi Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka tetap memberi dukungan walaupun tim Arema mengalami kekalahan. Yang terbaru adalah rekor jumlah tandang penonton hingga kisaran 45 ribu ketika Arema bersua dengan Persija di 30 Mei 2010 lalu.

Aremania mempunyai prinsip kuat. Kalau mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membeli tiket atau berjalan ke kota lain untuk menonton Arema, mereka akan bermain musik di jalan atau meminjam uang dari teman untuk mendapatkan uang. Mereka tidak akan mencuri atau melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran. Prinsip ini adalah sama kalau Aremania ke kota lain untuk menonton Arema. Aremania tidak mau menganggu masyarakat kota itu atau melakukan sesuatu yang kurang sopan. Arema kuat dalam kepercayaannya dan tidak pernah mau menciptakan persoalan. Hanya ada satu hal yang bisa mendapat Aremania menjadi kurang baik yaitu kalau pendukung tim lain merusak bendera Arema. Misalnya, menurut seorang Aremania, sering kali Aremania dilempari waktu di pertandingan tetapi Aremania duduk diam dan tidak membalas atau melakukan apa saja. Akan tetapi, kalau pendukung tim lain itu merusak bendera, Aremania akan menjadi marah dan membalas sebagai kekuatan satu.


Militansi inilah yang membuat banyak pemain asing, khususnya duo singapura betah di Malang. Militansi itu yang membuat para pemain bermain kesetanan dan sanggup mengalahkan tim-tim yang lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal terhadap tim, walaupun mereka tidak digaji setinggi jika mereka bergabung dengan tim lain. Ridhuan dan Along sendiri sebenarnya sudah hampir bergabung dengan Sriwijaya. Namun karena Aremanialah mereka balik kucing untuk membela panji Singo Edan.

Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna sebagai media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi anak-anak muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman Ken Arok".


Simak Artikel St Pauli di Wikipedia berikut
http://en.wikipedia.org/wiki/FC_St._Pauli#Supporters

Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, namun kita bisa menyakini kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol kebanggaan baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang positip) bagi Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan hidup yang mereka alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi energi-energi terpendan dalam tubuh anak-anak muda di Malang.

Dalam konteks inilah, fanatisme terhadap Arema menghasilkan efek-efek positip. Fanatisme itu dapat mengurangi kebiasaan nge-drug, minuman keras, trek-trekan (balapan liar) dan kebiasan-kebiasan buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek Malang. Fanatisme itu tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola dengan baik melalui pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai kegiatan positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial dan lain-lain.

Memang mustahil untuk memastikan bahwa 100.000 lebih supporter Arema semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada satu-dua orang yang masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun tindakan kejahatan yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania semakin jauh dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan suka melakukan kekerasan.

Berdasarkan realitas-realitas di atas, terlihat bahwa Arema sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi masyarakat Malang dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu menghadirkan sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat Malang pada umumnya karena Arema adalah St Paulinya Indonesia

Salam Satu Jiwa

*abi/we/berbagai sumber

*Raden*

Jumat, 13 Agustus 2010

Pantaskah mengaku AREMANIA ?! KAWAN atau MUSUH ?!




14 agustus 2010, Arema Garasi

Arema, sebuah fenomena, budaya, dan identitas yang mungkin kini sudah sangatlekat dari tubuh setiap insan yang berada di kota terbesar nomor dua dijawa timur saat ini. Sebuah nama yang baru saja mengejutkan dunia sepak bola nasional, karena dengan segala masalah finansial dan “kedudukan” pemain yang tidak bisa dibilang nomor satu,,tim itu kini telah menjelam menjadi tim nomor satu negara kita, bahkan dengan menjadi raja Indonesia itu,,efek yang begitu besar telah mengena pada setiap hati masyarakat malang raya,,,mereka tk mempedulikan berapapun uang yang harus dirogoh hanya untuk ikut berbaur kebahagiaaan atas kemenangan yang telah ditunggu selama 18 tahun ini, bahakan atribut biru-biru dan gerombolan massa akhir-akhir ini sulit untuk hilang dari pandangan kita,


Namun, mari sejenak kita menengok kebelakang dan melihat sesuatu yang mungkin bisa membuat kita berpikir lebih dewasa. Dibalik semua euforia pesta aremania dan juaran-nya arema indonesia dikancah persepakbolaan nasional, ada satu hal yang harus kita koreksi bersama, satu hal yang akan terus menjalar apabila kita sebagai manusia yang dewasa dan mengerti tidak segera memikirkan hal ini, satu hal yang mungkin akan selalu terlupakan dalam waktu yang begitu singkat karena sebuah kata “loyalitas tanpa batas” yang sudah tersematkan pada hati setiap aremania, namun coba kita pikirkan kembali dalam-dalam tentang kata “loyalitas tanpa batas” itu, benarkah kita loyal kepada tim kebanggaan kita??, atau kita loyal pada mereka yang sengaja atau mungkin tidak sengaja “tega” memakan sodaranya sendiri??. Ya, CALO, adalah sebuah sebutan yang selalu melekat pada setiap mafia tiket yang selama ini beredar sangat luas dibumi kebanggan kita ini. Entah pada siapa kita harus mengadu, bahkan dari beberapa sumber menyebutkan bahwa tercipatanya mereka tak bisa lepas adri “dukungan” yang juga diberikan dari oknum-oknum dibalik layar, bahkan sebagai bukti pula,,,sudah beribu janji yang terucap dari bibir pihak yang terkait jika mereka akan membasmi para mafia itu, toh nyatanya sampai detik terakhir pertandingan “ perang bintang” kemarin, mereka masih berkeliaran bebas di pinggir-pinggir jalanan kota tercinta kita ini.


Banyak cerita yang tercipta dari terjadinya sebuah fenomena itu, bahkan sempat membuat bibir saya tersenyum pasi membayangkan dan mendengar ceritanya, mulai dari cerita temanya teman saya yang menjadi CALO tiket pada pertandingan big match, dimana besoknya sang CALO langsung bisa membeli sepeda motor dengan merk ternama, sampai cerita meningktnya harga tiket 2-3 kali lipat dalam setiap pertandingan big match, bayangkan saja jika pada sebuah pertandingan big match mereka mengambil keuntungan 25 ribu, dan mereka berhasil menjual 100 tiket, sudah berpa omset yang mereka dapatkan hari itu juga,,,??, sementara mereka yang awam dan tak mengerti apa-apa langsung saja meng iyai berapapun tiket yang dijual tersebut, tanpa memikirkan andaikan uang 25 ribu yang kalian berikan ke calo itu tersimpan dan bisa untuk membeli tiket lagi pada hai berikutnya, mingkin kalian akan lebih senang karena kalian telah bisa membantu pihak manajemen untuk meningkatkan kualitas team ini.kembali saya tanyakan,,benarkah ada kata “loyalitas tanpa batas” itu dihati kalian untuk arema indonesia??

Sebuah fenomena yang runyam memang, disisi lain mereka rela merogoh kocek berapapun untuk tim kebanggan kita demi sebuah sebutan “aremania sejati”,, disisi lain ada mereka yang tega memeprdayai mereka yang menginginkan kata itu disebutkan pihak lain untuk mereka,,,sebuah hubungan yang erat dan mungkin akan susah terpisahkan.
Dan mirisnya, hal itu terjadi karena keteledoran yang mungkin tidak disadari, bahwa terciptanya mereka para mafia adalah tanpa disadari dari diri merka sendiri aremania. Dari sumber yang saya temui, para mafia tiket itu adalah banyak juga yang berasal dari korwil-korwil yang tidak aktif, yang sudah menyebar di seantero malang raya dan sekitarnya. Sungguh miris dan memalukan, kita yang telah disebut sebagai suporter terbaik se-Indonesia telah mengkhianati kepecayaan tersebut. Dan jika hal ini tidak segera terobati, maka tidak menutup kemungkinan hal ini bisa menghancurkan diri kita sendiri, seperti sebuah kalimat yang terucap dari bibir “bapak” kita ovan tobing “tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menghancurkan aremania, kecuali kekuatan TUHAN dam aremania itu sendiri”,,mungkinkah hal ini akan terjadi??

Nawak,,,tim kebanggan kita sudah memberikan yang terbaik buat kita,,sudah sepatasnya kita juga harus memebrikan yang terbaik untuk merka dan kota ini, mari kita berpikir lebih jernih,,merkea para mafia itu musuh ato kawan kita??,,dan jawaban itu ada dalam hati kita masing-masing, maka jika kalian telah menemukan jawabanya, segeralah menggandeng tangan sahabat-sahabat kita untuk berjalan bersama menuju kebaikan, mari kita berantas bersama mereka yang mungkin tanpa sengaja telah menodai almamater kita sebagai suporter yang disegani di negeri ini, sebagai suporter yang dicintai banyak insan di negeri ini, marilah kita berikan kepercayaan penuh kepada mereka yang telah bangga dengan kita, marilah kita buktikan kepada meraka semua bahwa kita adalah suporter yang cinta damai dan bisa beripikir dewasa serta mampu bertanggung jawab dengan semua beban yang ada, tak perlu kita menunggu janji yang belum juga terbukti, karena hanya dengan hati yang bersih, rasa memiliki dan mencintai kepada tim ini lah kita bisa menjadi lebih baik dari kita yang sekarang,,,dewasalah aremania,,,

Satu dalam damai bitu aremania,,,salam satu jiwa...

--Raden--

Minggu, 08 Agustus 2010

Duo Singapore yang sangat mencintai Aremania & Kembalinya Squad Juara




Kalau hati sudah tertambat, ya susah untuk melupakan. "begitulah kira2 ungkapan yang pas buat mereka". Ketika didatangkan oleh management AREMA INDONESIA musim kemarin, mungkin mereka hanya mendengar dari media atau bocoran dari wartawan bahwa Aremania adalah suporter fanatik dansangat kreatif, tetapi dimusim yang baru berakhir kemarin mereka telah mumbuktikan sendiri akan kreatifitas dan fanatisme Aremania,dan lagu khas Aremania " Salam Satu Jiwa" pun begitu mengena di Jiwa duo Singapore ini, disamping solid dan kondusinya racikan Mr Trebor yang menghantarkan mereka menjuarai gelar ISL 2009/2010 yang juga penantian panjang AIFC dan Aremania, dan gelar runer-up Piala Indonesia, yang ini juga merupakan gelar pertama buat M Ridhuan, yang selama dikarier sepak bola nya di dalam negri Singapore belum pernah merasakan gelar Liga.

Walupun setelah AIFC merebutnya dan Arema Indonesia sempat goyang dengan rumor Eksodusnya Pelatih dan sebagian besar Pemain AIFC, yang pada Akhirnya kabar rumor tersebut juga hampir mendekati kebenaran dengan Pra-kontarak duo Singapore tersebut dengan Sriwijaya FC, dan yang pada akhirnya mereka membatalkanya dan siap mengembalikan sejumblah uang Pra-kontrak mereka ke Sriwijaya FC. Keputusan mereka ini juga terdorong dari telah resminya Pierre Njanka untuk tetep bertahan di Arema Indonesia musim depan, setelah batalnya transfer ke PSM Makasar untuk mengikuti sang Arsitek Mr Robert yang memang sudah resmi menjadi bagian team Ayam Kinantan.

Sampai saat ini 15 pemain Arema Indonesia squad team juara, sudah membubuhkan tandatanganya termasuk duo Singapore, menyisakan negosiasi dengan Roman,Kurnia Mega,Esteben, dan pemai lainya.

Dan akhirnya keinginan Aremania dan banyak pihak agar duo singapura,
Noh Alam Shah dan Ridhuan Muhammad tetap di Arema Indonesia akhirnya terwujud. Tadi sore, keduanya resmi mengikat kontrak dengan Singo Edan.

Ketua Yayasan Arema, HM Nur mengatakan sangat bersyukur, Along dan Ridhuan mewujudkan niatannya untuk kembali ke Malang. "Alhamdulillah, kami pengurus yayasan juga serius mewujudkan keinginan Aremania agar mengembalikan keduanya ke Arema,," ujarnya.

Ditambahkan HM Nur, keduanya juga telah berkomitmen untuk meningkatkan penampilannya di Arema. Untuk Along, kata HM Nur, siap untuk memperbaiki diri, setelah mendapat saran dan masukan dari jajaran pengurus Arema, Aremania, media dan semua pihak.

Kedepan, lanjut HM Nur, Along akan berkomitmen mengantarkan prestasi lebih baik dan menjaga citra
Arema Indonesia. ."Karena itu, sekarang ini kita semua menatap kedepan, tidak perlu melihat kebelakang, tantangan kedepan jauh lebih berat, yakni mempertahankan juara ISL serta mengharumkan nama Indonesia melalui Arema tampil di level Asia,," pungkasnya.

--Raden Garasi--